Senin, 17 Januari 2011

pengaruh arus terhadap alat tangkap gill net


1.  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Oseanografi merupakan  ilmu yang sangat berperan penting dalam berbagai bidang khususnya dalam bidang perikanan. Ilmu ini mempelajari keadaan perairan baik dari fisika, kimia dan biologi. Pada saat ini, ilmu oseanografi menjadi sangat penting untuk berbagai keperluan yang menunjang kebutuhan manusia. Dikarenakan lautan menyediakan banyak sumberdaya yang mahal harganya seperti, minyak, gelombang, ikan, arus, angin, serta organisme yang hidup di dalamnya.
Kegunaan mempelajari oseanografi adalah untuk mengetahui berbagai macam parameter di laut, diantaranya arus yaitu untuk mengetahui pola persebaran ruaya ikan, biota laut, gelombang untuk mengetahui keadaan topografi laut dengan melihat tipe-tipe gelombangnya, dan pasang surut untuk mengidentifikasikan keadaan posisi benda angkasa seperti matahari dan bulan. Parameter-parameter tersebut sangat menentukan bentuk dari pantai, sedimen, permukaan dasar laut, dan bagaimana habitat dari biota yang hidup di dalamnya.
Pada paper ini akan dibahas mengenai parameter fisika dari oseanografi yaitu arus. Seperti yang kita ketahui bahwa arus pada suatu perairan berbeda –beda baik kecepatannya maupun arahnya. Hal tersebut ternyata sangat mempengaruhi pemasangan alat tangkap di suatu perairan, seperti alat tangkap jaring insang. Selain itu, arus juga sangat berpengaruh terhadap pola penyebaran ikan. Dari hal tersebut diatas maka dapat diketahui bahwa parameter oseanografi sangat berpengaruh pada bidang ilmu penangkapan ikan.
1.2  Manfaat
Manfaat dari paper ini yaitu menginformasikan kepada para pembaca,  mengenai hubungan arus dan pemasangan alat tangkap jaring insang (gillnet) di suatu perairan.
2. PEMBAHASAN
2.1. Arus
Lautan merupakan media yang selalu bergerak, baik di permukaan maupun lapisan di bawahnya. Hal ini menyebabkan terjadinya sirkulasi air, bisa berskala kecil maupun yang berskala besar. Pergerakan massa air (arus) ini ada yang bersifat lokal dan ada yang mengalir melintas samudera. Arus merupakan gerakan air di permukaan laut terutama disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya (Hutabarat dan Evans 2006).
Menurut Hutabarat dan Evans (2006), bentuk arus dapat dibagi menjadi tiga macam, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Arus yang benar-benar mengelilingi daerah kutub selatan (Antartic Circumpolar Current) yang terdapat pada lintang 60ยบ selatan.
  2. Aliran air di daerah ekuator yang mengalir dari arah barat ke timur, tetapi mereka dibatasi oleh arus-arus sejajar yang mengalir dari timur ke barat, baik di belahan bumi utara maupun di belahan bumi selatan.
  3. Daerah subtropikal ditandai oleh adanya arus-arus berputar yang dikenal sebagai gyre. Terdapat kecenderungan bahwa setiap sistem lautan utama dunia mempunyai satu gyre yang masing-masing terdapat di sebelah utara dan selatan ekuator. Aliran air pada gyre yang terdapat di belahan bumi utara mengalir searah jarum jam, sedangkan yang terdapat di belahan bumi selatan mengalir berlawanan dengan arah jarum jam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pergerakan arus diantaranya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti perbedaan densitas air laut, gradien tekanan mendatar dan gesekan lapisan air. Sementara faktor eksternal diantaranya angin, gravitasi, perbadaan tekanan udara, gaya tektonik, serta gaya tarik matahari dan bulan yang disebabkan oleh tekanan dasar laut (Hutabarat dan Evans, 2006).
Menurut Davis (1991) arus terbagi kedalam tiga kelompok. Pertama arus yang disebabkan oleh perbedaan densitas air laut. Arus ini disebabkan oleh air yang memiliki densitas yang lebih kecil atau lebih ringan. Arus jenis ini biasanya membawa air dari suatu tempat ke tempat lain. Kedua, arus yang ditimbulkan oleh adanya angin yang berhembus di permukaan laut biasanya arus jenis ini membawa air ke jurusan yang sama selama satu musim tertentu. Ketiga, arus yang disebabkan oleh pasang surut air laut. Arus ini mengalirnya bolak-balik dari dan ke pantai dan berputar. Arus ini juga dipengaruhi oleh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi dan datangnya periodik sehingga mudah diramalkan.
Sverdrup et al  (1972) dalam Anonim (2008)  membagi arus  laut ke dalam  tiga golongan besar, yaitu: 1). Arus yang disebabkan oleh perbedaan sebaran densitas di  laut. Arus ini disebabkan oleh air yang berdensitas lebih berat akan mengalir ke tempat air yang  berdensitas  kecil  atau  lebih  ringan. Arus  jenis  ini  biasanya memindahkan sejumlah besar massa air ke  tempat  lain; 2). Arus yang ditimbulkan oleh angin yang berhembus di permukaan laut. Arus jenis ini biasanya membawa air kesatu jurusan  dengan  arah  yang  sama  selama  satu  musim  tertentu;  3).  Arus  yang disebabkan  oleh  air  pasang. Arus  jenis  ini mengalirnya  bolak-balik  dari  dan  ke pantai atau berputar.
Gerakan massa air dalam sangat berbeda dengan massa air permukaan. Massa  air  dalam  terisolasi  dari  angin,  oleh  karena  itu  gerakannya  tidaklah bergantung  pada  angin.  Tetapi  gerakan  massa  air  dalam  sebenarnya  terjadi karena  perubahan  gerakan  air  permukaan.  Di  daerah  tertentu  dan  dalam keadaan  tertentu  pula,  gerakan  lateral  air  yang  disebabkan  oleh  angin  juga mengakibatkan air mengalami suatu sirkulasi vertikal atau gerakan ke atas atau yang biasa kita kenal dengan upwelling (Nybakken, 1992 dalam Anonim, 2008).
2. Jaring Insang (Gillnet)
Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, “jaring” dan lain-lain. Istilah gill net didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap ”gill net” terjerat disekitar operculumnya pada mata jaring. Dalam bahasa jepang, gill net disebut dengan istilah ”sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net, ialah dengan proses dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut ”menusukkan diri-sasu” pada ”jaring-ami”. Di Indonesia, penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutnya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring koro, jaring udang, dan sebagainya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan sebagainya (Ayodhyoa, 1981).
Pada umumnya, yang disebutkan dengan gill net ialah jaring yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya.
Jaring insang yang dioperasikan pada perairan dangkal untuk menangkap ikan pelagis seperti ikan kembung, ikan tongkol, ikan tenggiri dan ikan cakalang, sedangkan pada perairan yang lebih dalam untuk menangkap ikan demersal yang dioperasikan di atas dasar laut (Hadian, 2005). Menurut Nomura dan Yamazaki (1987) vide Walus (2001), umunya jaring insang dioperasikan dalam rangkaian yang panjang hingga mencapai 3.000 – 4.000 meter, kadangkala dioperasikan secara terhanyut bersama – sama kapalnya atau ditetapkan kedudukannya dengan bantuan jangkar membentang sepanjang dasar perairan maupun pada kedalaman tertentu.
Menurut Martasuganda (2002), jaring insang dapat diklasifikasikan berdasarkan metode pengoperasiannya menjadi lima jenis, yaitu (1) jaring insang tetap (fixed gillnet atau set gillnet), (2) jaring insang hanyut (drift gillnet), (3) jaring insang lingkar (encircling gillnet), (4) jaring insang giring (frightening gillnet atau drive gillnet), (5) jaring insang sapu (rowed gillnet). Menurut Ayodhyoa (1979) vide Walus (2001), berdasarkan lapisan jaring yang membentuk dinding jaring dibedakan menjadi jaring insang berdinding tunggal dan berdinding tiga (trammel net), sedangkan berdasarkan lapisan kedalaman air tempat dioperasikannya alat ini dapat dibedakan menjadi jaring insang permukaan (surface gillnet), jaring insang lapisan air tengah (midwater gillnet), dan jaring insang dasar (bottom gillnet).
Sedangkan, menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Indonesia (2005), jaring insang dibedakan menjadi:
  • Jaring insang hanyut (Drift Gillnet), dimana jaring ini dipasang dengan cara terbentang dan dihanyutkan untuk menghadap sekumpulan ikan.
  • Jaring insang lingkar (Encircling Gillnet), dimana jaring ini dipasang melingkari sekumpulan ikan dan saat ikan bergerak ke segala arah maka akan terjerat pada jaring.
  • Jaring insang tetap (Set Gillnet), dimana jaring insang ini umumnya dipasang dengan menggunakan pemberat atau diikatkan pada sesuatu hingga tidak hanyut terbawa arus.
  • Jaring klitik (Shrimp EntanglingGillnet), dimana jaring insang ini pada umumnya dipasang pada daerah dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal dan udang.
  • Jaring tiga lapis (Trammel Net), dimana jaring insang yang terdiri dari beberapa lapisan jaring agar ikan yang terjerat tidak mudah lepas kembali.
Agar ikan-ikan mudah terjerat (gill net) pada mata jaring dan dapat terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring, maka baik material yang dipergunakan ataupun pada waktu pembuatan jaring hendaklah diperhatikan hal-hal antara lain seperti berikut (Nomura, 1978; Ayodhyoa, 1981)
  • Kekuatan dari Twine (Rigidity of Netting Twine)
Twine yang dipergunakan hendaklah lembut tidak kaku, pliancy, suppeleness. Dengan demikian, twine yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nilon, kremona, dan lain-lain, dimana twine ini mempunyai fibres yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami, dan lainnya yang fibresnya keras tidak digunakan.
Untuk mendapatkan twine yang lembut, ditempuh dengan cara memperkecil diameter twine atau jumlah pilin persatuan panjang dikurangi, atau bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan.
  • Ketegangan Rentangan Tubuh Jaring
Yang dimaksud dengan keterangan rentangan disini ialah rentangan ke arah panjang jaring. Jaring mungkin direntangkan dengan tegang sekali, tetapi mungkin pula tidak terlalu tegang. Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension bail pada float line ataupun pada tubuh jaring, dan sedikit banyak berhubungan pula dengan jumlah tangkapan yang akan diperoleh.
Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari float, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari sinker, dan juga shortening yang digunakan.
  • Shortening atau Shrinkage
Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) ataupun terbelit-belit pada mata jaring dan supaya ikan-ikan tersebut tidak mudah terlepas dari mata jaring, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup. Yang dimaksudkan shortening atau shrinkage adalah pengerutan, yaitu beda panjang tubuh jaring dalam keadaan tegang sempurna dengan panjang jaring setelah diletakkan pada float line ataupun sinker line, disebutkan dalam persen.
  • Tinggi Jaring
Yang dimaksud dengan tinggi jaring ialah jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Untuk jaring insang tetap, akibat resistence terhadap arus akan meyebabkan perubahan bentuk jaring, pertambahan lebar jaring (mesh depth) akan juga berarti pertambahan resistance terhadap arus. Biasanya lebar jaring insang tetap tidak melebihi dari sekitar 7 meter.
  • Mesh Size dan Besar Ikan
Antara mesh size dari gill net dan besar ikan yang terjerat (gilled) terdapat hubungan yang erat sekali. Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan besifat selektif terhadap besar ukuran catch yang diperolehnya.
  • Warna Jaring
Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman dari perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan, dan faktor lainnya. Sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan-ikan yang berbeda-beda. Demikian pula hendaklah warna jaring sama dengan warna air diperairan tersebut, juga warna jaring jangan membuat yang sangat kontras, baik terhadap warna air juga terhadap warna dari dasar perairan tersebut.
Cara tertangkapnya ikan pada kedua jenis jaring ini, selain terjerat pada bagian belakang operculum atau terjerat di antara operculum dan bagian tinggi maksimum pada mata jaring bagian dalam, juga tertangkap secara terpuntal. Selain itu, ikan yang tertangkap dapat terjerat juga terpuntal pada jaring (Hadian, 2005).
Menurut Baranov (1999) vide Tibrizi (2003) menyatakan bahwa mekanisme tertangkapnya ikan dibedakan dalam tiga cara, yaitu:
  1. Gilled : Ikan terjerat mata jaring pada bagian operculum.
  2. Wedged : Ikan terjerat mata jaring pada bagian keliling tubuhnya.
  3. Tangled : Ikan terpuntal di jaring pada bagian gigi, maxillaria, sirip, apendik atau bagian tubuh ikan lainnya.
Secara umum pengoperasian gillnet dilakukan secara pasif, tetapi ada juga yang dilakukan secara semi aktif pada siang hari. Pengoperasian gillnet secara pasif umumnya dilakukan pada malam hari, dengan atau tanpa alat bantu cahaya. Kemudian gillnet dipasang di perairan yang diperkirakan akan dilewati ikan atau hewan lainnya dan dibiarkan beberapa lama sampai ikan menabrak dan terjerat memasuki mata jaring. Lama waktu pemasangan gillnet disesuaikan dengan target tangkapan atau menurut kebiasaan nelayan yang mengoperasikan (Martasuganda, 2005).
Metode pengoperasian alat tangkap gillnet pada umunya terdiri atas beberapa tahap, yaitu (Miranti, 2007):
  • Persiapan Alat
Sebelum operasi dimulai semua peralatan dan perbekalan harus dipersiapkan dengan teliti. Jaring harus disusun di atas kapal dengan memisahkan antara pemberat dan pelampung supaya mudah menurunkannya dan tidak kusut. Penyusunan gillnet diatas kapal penangkapan ikan disesuaikan dengan susunan peralatan di atas kapal atau tipe kapal yang dipergunakan. Sehingga dengan demikian gill net dapat disusun di atas kapal pada :
  1. buritan kapal
  2. samping kiri kapal
  3. samping kanan kapal
  • Waktu Penangkapan
Penangkapan ikan denan menggunakan alat tangkap gill net umumnya dilakukan pada waktu malam hari terutama pada saat gelap bulan. Dalam satu malam bila bulan elap penuh operasi penangkapan aatau penurunan alat dapat dilakukan sampai dua kali karena dalam sekali penurunan alat, gill net didiamkan terpasang dalam perairan sampai kira-kira selam 3-5 jam.
  • Daerah Penangkapan (Fishing Ground)
Setelah semua peralatan tersusun rapi maka kapal dapat dilayarkan menuju ke daerah penangkapan (fishing ground). Syarat-syarat daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net adalah :
  1. bukan daerah alur pelayaran umum dan
  2. arus arahnya beraturan dan paling kuat sekitar 4 knots
  3. dasar perairan tidak berkarang
  • Penurunan Alat
Bila kapal telah sampai di daerah penangkapan, maka persiapan alat dimulai, yaitu :
  1. posisi kapal ditempatkan sedemikian rupa agar arah angin datangnya dari tempat penurunan alat
  2. setelah kedudukan/ posisi kapal sesuai dengan yang dikehendaki, jaring dapat diturunkan. Penurunan jaring dimulai dari penurunan jangkar, pelampung tanda ujung jaring atau lampu, kemudian tali slambar depan, lalu jaring, tali slambar pada ujung akhir jaring atau tali slambar belakang, dan terakhir pelampung tanda.
  3. pada saat penurunan jaring, yang harus diperhatikan adalah arah arus laut. Karena kedudukan jaring yang paling baik adalah memotong arus antara 450-900
  • Penaikan Alat dan Pengambilan Ikan
Setelah jaring dibiarkan di dalam perairan sekitar 3-5 jam, jaring dapat diangkat (dinaikkan) ke atas kapal untuk diambil ikannya. Bila hasil penangkapan baik, jaring dapat didiamkan selama kira-kira 3 jam sedangkan bila hasil penangkapan sangat kurang jaring dapat lebih lama didiamkan di dalam perairan yaitu sekitar 5 jam. Bila lebih lama dari 5 jam akan mengakibatkan ikan-ikan yang tertangkap sudah mulai membusuk atau kadang-kadang dimakan oleh ikan lain yang lebih besar.
Urutan pengangkatan alat ini adalah merupakan kebalikan dari urutan penurunan alat yaitu dimulai dari pelampung tanda, tali selambar belakang, baru jaring, tali selambar muka dan terakhir pelampung tanda.
Apabila ada ikan yang tertangkap, lepaskan ikan tersebut dari jaring dengan hati-hati agar ikan tidak sampai terluka. Untuk hal tersebut bila perlu dengan cara memotong satu atau dua kaki (bar) pada mata jaring agar ikan dilepas tidak sampai luka/ rusak.
Ikan-ikan yang sudah terlepas dari jaring segera dicuci dengan air laut yang bersih dan langsung dapat disimpan ke dalam palka, dengan dicampur peahan es atau garam secukupnya agar iakn tidak lekas membusuk.
3.  Hubungan Arus terhadap Pemasangan Jaring Insang (Gillnet)
Arah arus sangat berpengaruh pada posisi pemasangan jaring insang (gillnet). Pada posisi pemasangan jaring insang (gillnet) tegak lurus arus maka mata jaring dari jaring insang (gillnet) akan terbuka dengan sempurna sehingga ikan akan menabrak jaring dan tertangkap dengan cara terjerat (gilled) dan atau terbelit (entangled). Sedangkan pada posisi pemasangan jaring insang (gillnet) searah arus maka mata jaring dari jaring insang (gillnet)  tidak akan terbuka dengan sempurna  sehingga ada kemungkinan ikan hanya tertabrak jaring tetapi tidak terjerat atau tertangkap. Hal ini sesuai dengan pendapat Gunarso (1985) yang mengemukakan bahwa prinsip penangkapan jaring insang adalah menghadang gerak ruaya atau gerombolan ikan pada kedalaman tertentu, dan keberhasilan operasi penangkapan jaring insang ditentukan oleh kesempurnaan terbukanya mata jaring karena kecenderungan arah renang ikan yaitu berlawanan atau mengikuti arah arus sehingga ikan tertangkap.
Terbukanya mata jaring pada jaring insang (gillnet) secara sempurna berpengaruh kepada hasil tangkapan dari jaring insang (gillnet) tersebut. Semakin sempurna mata jaring terbuka di dalam perairan maka akan semakin banyak ikan yang tertangkap atau terjerat oleh jaring. Hal ini sesuai dengan pendapat Nomura dan Yamazaki (1977) vide Wijanarko (1994), yang menyatakan bahwa agar penangkapan lebih efektif maka pemasangan jaring diupayakan untuk menghadang/tegak lurus arah arus. Arah arus sangat menentukan posisi jaring dalam air. Arus menimbulkan adanya resistansi pada jaring sehingga jaring terbentang dan mata jaring terbuka lebar.
Selain arah arus, posisi pemasangan jaring insang (gillnet) juga sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus. Terdapat ikan yang berenang mengikuti kecepatan arus, namun terdapat juga ikan yang berenang tidak mengikuti kecepatan arus. Hal inilah yang harus diperhatikan sebelum menentukan posisi pemasangan jaring insang (gillnet). Menurut Harden (1963) vide Wijanarko (1994),  jika jaring dan ikan hanyut dengan kecepatan yang sama tentunya akan kecil sekali kemungkinan akan tertangkap atau terjerat pada jaring, dan jika jaring hanyut secara lambat bersama arus maka ikan – ikan harus efektif berenang menentang maupun searah arus, sehingga pada saat demikian baru ada kemungkinan ikan dapat tertangkap. Jika ternyata ikan hanyut bersama arus, maka posisi jaring insang harus terentang menghadang/tegak lurus arah arus sehingga ikan dapat tertangkap.
Arus tidak hanya berpengaruh terhadap pemasangan jaring insang saja. Arus juga ternyata berpengaruh tergadap pola penyebaran ikan. Seperti yang telah dijelaskan sedikit diatas, arus berpengaruh terhadap pola renang ikan sehingga dengan mengetahui tingkah laku renang ikan maka dapat diketahui daerah – daerah mana saja yang terdapat banyak ikannya. Selain itu, arus membawa telur – telur dan anak – anak ikan dari spawning ground ke nursery ground dan dari nusery ground ke feeding ground. Hal ini dapat menjadi acuan untuk menentukan daerah penangkapan ikan yang baik karena dengan terbawanya telur – telur dan anak – anak ikan ke feeding ground oleh arus maka secara tidak langsung maupun langsung akan merangsang ikan – ikan dewasa berkumpul di feeding ground untuk mencari makan. Arus juga dapat membawa atau memindahkan nutrien – nutrien yang terdapat pada suatu perairan sehingga ikan – ikan akan berkumpul di daerah perairan yang banyak terdapat nutriennya untuk mencari makan.
4.  KESIMPULAN
Arus sangat erat kaitannya dalam bidang ilmu penangkapan ikan, terutama pada pemasangan alat tangkap jaring insang (gillnet). Arah arus dan kecepatan arus pada suatu perairan sangat menentukan posisi pemasangan jaring insang. Arus juga sangat berpengaruh pada bukaan mata jaring pada jaring insang (gillnet) ketika berada di perairan arus berpengaruh pula pada banyaknya ikan yang dapat ditangkap pada suatu perairan dengan menggunakan jaring insang (gillnet). Selain itu, arus juga sangat berperan dalam menentukan pola penyebaran ikan. Oleh karena itu, perlu diketahui terlebih dahulu kecepatan dan arah arus jika ingin memasang jaring insang pada suatu perairan agar hasil tangkapan yang dihasilkan lebih optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, N. 2003. Hubungan Suhu Permukaan Laut terhadap Pola Musim Penangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Ayodhyoa, AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
[DKP]. 2005. Deskripsi Kategori Alat Tangkap Jaring Insang. http://www.pipp. dkp.go.id/pipp2/kapalapi_index.html?idkat_api=4. [1 Januari 2009].
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metode dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor.
Hadian. 2005. Analisis Hasil Tangkapan Jaring Insang Hanyut dengan Ukuran Mata Jaring 2 Inci di Teluk Jakarta. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
King, M. 1995. Fisheries Biologi, Ascesment and Management. Faculty of Fisheries and Marine Environment. Australian Maritim College. Page 71 – 112.
Martasuganda, S. 2002. Jaring Insang (Gillnet). Bogor: Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Martasuganda, S. 2005. Jaring Insang (Gillnet). Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan: Edisi Baru. Bogor: Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Miranti. 2007. Perikanan Gillnet di Palabuhanratu: Kajian Teknis dan Tingkat Kesejahteraan Nelayan Pemilik. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
[PUSTEKKOM]. 2005. Gerakan Air Laut dan Kualitas Air Laut. http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=99&fname=geox0810.htm. [1 Januari 2009].
Setyawan, WB. 2008. Arus Laut. http://namce8081.wordpress.com/2008/09/21/ arus-laut/. [19 Oktober 2008].
Subani dan Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang di Indonesia. Jurnal Perikanan Laut. Nomor: 50 Tahun 1988/1989. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. 248 hal.
Tibrizi, A. 2003. Selektivitas Ukuran dan Mekanisme Pelolosan Udang Windu (Peneus monodon) Hasil Tangkapan Trammel Net Uji Coba di Tambak. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Walus, S. 2001. Studi Selektivitas Jaring Insang Hanyut terhadap Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Pelabuhan Ratu. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Wijanarko, B. 1994. Studi tentang Pengaruh Suhu Permukaan dan Arah Arus pada Penangkapan Ikan Terbang (Cypsilirus spp.) dengan Jaring Insang Hanyut di Perairan Taliabu Barat, Maluku Utara. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar